(Tangerang Selatan, 16102026) – PT. RadPro Energi Mandiri siap melayani jasa desain dan pembangunan bunker penyimpanan zat radioaktif untuk mendukung kebutuhan industri uji tak rusak (Non-Destructive Testing/NDT), well logging, dan gauging. Layanan ini ditujukan bagi perusahaan dan fasilitas industri yang membutuhkan tempat penyimpanan zat radioaktif dengan desain proteksi radiasi, sistem keamanan, serta persyaratan teknis yang disesuaikan dengan ketentuan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Penyimpanan zat radioaktif memerlukan fasilitas yang dirancang berdasarkan karakteristik sumber, jenis radionuklida, aktivitas sumber, potensi paparan radiasi, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi. Oleh karena itu, desain bunker harus memperhatikan ketebalan dan jenis material perisai radiasi, tata letak penyimpanan, akses keluar masuk, sistem pengamanan, serta pengendalian paparan radiasi bagi pekerja dan masyarakat.
Melalui layanan desain dan pembangunan bunker, PT. RadPro Energi Mandiri mendukung kebutuhan industri dalam menyiapkan fasilitas penyimpanan zat radioaktif yang direncanakan secara teknis dan disesuaikan dengan persyaratan perizinan serta keselamatan radiasi yang berlaku.
Bunker Zat Radioaktif untuk Industri Uji Tak Rusak (NDT)
Industri uji tak rusak atau Non-Destructive Testing (NDT) menggunakan teknik radiografi industri untuk memeriksa kualitas dan integritas material tanpa merusak objek yang diuji. Pada metode radiografi yang menggunakan sumber radioaktif, zat radioaktif harus dikelola dan disimpan dengan memperhatikan keselamatan serta keamanan sumber.
Bunker penyimpanan dirancang untuk menyediakan area khusus bagi penyimpanan sumber radioaktif ketika tidak digunakan. Desainnya perlu mempertimbangkan jenis dan aktivitas radionuklida, karakteristik radiasi gamma, kebutuhan perisai radiasi, pengaturan akses, serta potensi paparan pada area kerja dan lingkungan sekitar.
Perencanaan fasilitas juga perlu memperhatikan prosedur pengamanan sumber radioaktif, pengendalian akses oleh personel yang berwenang, serta kesiapan pelaksanaan survei radiasi setelah pembangunan selesai.
Desain dan Pembangunan Bunker untuk Well Logging
Pada industri minyak dan gas, pertambangan, dan kegiatan pengeboran, well logging dapat menggunakan sumber radioaktif untuk pengukuran karakteristik formasi bawah permukaan.
Sumber radioaktif yang digunakan dalam kegiatan tersebut memerlukan fasilitas penyimpanan yang dirancang sesuai karakteristik sumber dan persyaratan keselamatan serta keamanan yang berlaku.
PT. RadPro Energi Mandiri melayani kebutuhan desain dan pembangunan bunker untuk penyimpanan sumber well logging dengan mempertimbangkan jenis radionuklida, aktivitas sumber, konfigurasi penyimpanan, ketebalan perisai, sistem pengamanan, dan kondisi lokasi.
Perencanaan teknis dilakukan berdasarkan kebutuhan fasilitas dan evaluasi proteksi radiasi sehingga desain yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar dalam proses pembangunan dan pemenuhan persyaratan perizinan.
Bunker Penyimpanan Sumber Radioaktif Gauging
Peralatan gauging banyak digunakan dalam industri semen, petrokimia, pupuk, pertambangan, pengolahan mineral, serta berbagai proses manufaktur. Peralatan tersebut dapat menggunakan sumber radioaktif untuk mengukur parameter proses, seperti level, densitas, dan karakteristik material.
Perusahaan yang memiliki sumber radioaktif untuk keperluan gauging perlu menyediakan pengaturan penyimpanan yang sesuai ketika sumber atau perangkat tidak sedang digunakan, berdasarkan karakteristik peralatan dan ketentuan yang berlaku.
Desain bunker perlu mempertimbangkan jenis sumber, aktivitas radionuklida, arah dan karakteristik radiasi, jumlah sumber yang akan disimpan, serta kondisi area di dalam dan di luar fasilitas.
Selain perisai radiasi, aspek keamanan sumber, pembatasan akses, penandaan daerah radiasi, dan pengaturan operasional juga perlu diperhatikan untuk mendukung penyimpanan yang aman dan terkendali.
Desain Proteksi Radiasi dan Target Laju Dosis Bunker
Salah satu aspek utama dalam desain bunker zat radioaktif adalah pengendalian laju dosis radiasi di sekitar fasilitas. Perhitungan perisai radiasi harus dilakukan berdasarkan karakteristik sumber, aktivitas radionuklida, energi radiasi, jarak, geometri penyimpanan, faktor penggunaan, dan kondisi okupansi area di sekitar bunker.
Dalam perencanaan fasilitas, target laju dosis radiasi yang disampaikan untuk dievaluasi meliputi:
-
Di atas boom pit atau area penyimpanan sumber: laju dosis radiasi ditargetkan kurang dari atau sama dengan 10 µSv/jam.
-
Di luar pagar bunker: laju dosis radiasi ditargetkan kurang dari atau sama dengan 0,5 µSv/jam.
Nilai tersebut merupakan target desain yang perlu diverifikasi terhadap ketentuan BAPETEN yang berlaku, kondisi penggunaan fasilitas, hasil kajian proteksi radiasi, serta persyaratan izin yang relevan. Penerapannya tidak dapat dianggap sebagai batas universal untuk semua jenis bunker atau seluruh kondisi operasi.
Perhitungan ketebalan perisai radiasi perlu dilakukan oleh tenaga teknis yang kompeten berdasarkan sumber desain dan konfigurasi fasilitas yang sebenarnya. Setelah pembangunan selesai, pengukuran laju dosis radiasi di titik-titik yang ditentukan perlu dilakukan untuk memverifikasi kinerja perisai dan memastikan kesesuaian fasilitas terhadap persyaratan yang berlaku.
Dengan pendekatan tersebut, desain bunker tidak hanya berorientasi pada konstruksi fisik, tetapi juga pada pembuktian kinerja proteksi radiasi melalui perhitungan dan pengukuran.
Pembangunan Bunker Sesuai Persyaratan BAPETEN
Pembangunan fasilitas penyimpanan zat radioaktif perlu direncanakan dengan memperhatikan ketentuan keselamatan radiasi, keamanan zat radioaktif, serta persyaratan perizinan yang relevan dari BAPETEN.
Aspek yang perlu dievaluasi meliputi desain perisai radiasi, tata letak fasilitas, sistem keamanan, akses personel, penandaan radiasi, prosedur penyimpanan, serta rencana survei radiasi.
Ruang lingkup pekerjaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, mulai dari konsultasi teknis, pengumpulan data sumber radioaktif, perencanaan dan desain, pekerjaan konstruksi, hingga pengukuran laju dosis radiasi setelah pembangunan sesuai kesepakatan dan persyaratan yang berlaku.
Apabila diperlukan, dokumen teknis desain dapat disiapkan untuk mendukung proses evaluasi dan pengajuan perizinan. Persetujuan desain, izin pembangunan atau penggunaan apabila dipersyaratkan, serta pemenuhan ketentuan keselamatan tetap mengikuti proses resmi dari instansi berwenang.
Desain Bunker Harus Berdasarkan Perhitungan Teknis
Menurut Suroyo, Direktur Utama PT. RadPro Energi Mandiri, pembangunan bunker zat radioaktif harus diawali dengan pemahaman mengenai karakteristik sumber dan kebutuhan fasilitas penyimpanan.
“Desain bunker zat radioaktif tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan ketebalan dinding atau jenis material konstruksi. Perencanaan harus memperhitungkan jenis radionuklida, aktivitas sumber, karakteristik radiasi, tata letak penyimpanan, serta kondisi area di sekitar bunker. Hasil perhitungan tersebut menjadi dasar dalam menentukan desain perisai radiasi yang sesuai,” ujar Suroyo.
Ia menjelaskan bahwa pengendalian laju dosis radiasi di atas area penyimpanan dan di luar pagar bunker merupakan salah satu aspek yang perlu dievaluasi dalam perencanaan fasilitas.
Menurut Suroyo, verifikasi melalui pengukuran radiasi setelah pembangunan juga penting untuk mengevaluasi kesesuaian kondisi aktual dengan desain yang telah direncanakan.
“Tujuan akhirnya adalah menyediakan fasilitas penyimpanan yang dirancang berdasarkan kebutuhan teknis, mendukung keselamatan dan keamanan zat radioaktif, serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh instansi berwenang,” tambahnya.
PT. RadPro Energi Mandiri Siap Mendukung Kebutuhan Bunker Industri
Melalui layanan jasa desain dan pembangunan bunker zat radioaktif, PT. RadPro Energi Mandiri siap mendukung kebutuhan perusahaan yang bergerak di bidang radiografi industri/NDT, well logging, dan gauging.
Konsultasi dapat dimulai dengan penyampaian informasi mengenai jenis radionuklida, aktivitas sumber, jumlah sumber, konfigurasi penyimpanan, lokasi pembangunan, serta kebutuhan operasional fasilitas. Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan ruang lingkup kajian teknis dan desain yang sesuai. (yy)





