(Tangerang Selatan, 05062026) – Dalam pemanfaatan sumber radiasi pengion di sektor industri, kesehatan, penelitian, dan pendidikan, aspek proteksi radiasi menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhatikan. Salah satu metode yang paling efektif untuk mengurangi paparan radiasi eksternal adalah penggunaan perisai radiasi (shielding) yang dirancang sesuai karakteristik sumber radiasi dan kebutuhan fasilitas.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT. RadPro Energi Mandiri menghadirkan layanan timbalisasi fasilitas radiasi dan zat radioaktif, meliputi desain, fabrikasi, dan pemasangan berbagai sistem perisai radiasi berbahan timbal, termasuk pintu timbal (lead door), dinding timbal, jendela kaca timbal (lead glass), ruang penyimpanan sumber radioaktif, bunker radiografi industri, fasilitas kedokteran nuklir, laboratorium radioisotop, hingga fasilitas pengelolaan limbah radioaktif.
Timbal telah lama digunakan sebagai material pelindung radiasi karena memiliki densitas tinggi sekitar 11,34 g/cm³ dan kemampuan yang sangat baik dalam menyerap radiasi gamma dan sinar-X. Penggunaan material timbal memungkinkan pengurangan laju dosis radiasi secara signifikan sehingga area kerja dapat memenuhi persyaratan keselamatan radiasi yang ditetapkan regulator.
Dalam perancangan sistem shielding, PT. RadPro Energi Mandiri menerapkan pendekatan teknis berdasarkan konsep Half Value Layer (HVL) dan Tenth Value Layer (TVL). HVL merupakan ketebalan material yang diperlukan untuk mengurangi intensitas radiasi menjadi setengah dari nilai awalnya, sedangkan TVL adalah ketebalan material yang mampu menurunkan intensitas radiasi hingga sepersepuluh dari nilai semula.
Melalui konsep HVL, perancang dapat menentukan ketebalan perisai yang diperlukan untuk mencapai tingkat perlindungan tertentu. Sebagai contoh, jika satu lapis HVL dapat mengurangi radiasi hingga 50%, maka dua lapis HVL akan mengurangi radiasi menjadi 25%, tiga lapis menjadi 12,5%, dan seterusnya.
Selain itu, konsep TVL digunakan untuk desain fasilitas yang membutuhkan pengurangan radiasi dalam jumlah besar. Dengan satu TVL, intensitas radiasi berkurang menjadi 10% dari nilai awal, dua TVL menjadi 1%, dan tiga TVL menjadi 0,1%. Pendekatan ini umum digunakan dalam perancangan bunker radioterapi, fasilitas radiografi industri, serta ruang penyimpanan sumber radioaktif aktivitas tinggi.
Direktur Utama PT. RadPro Energi Mandiri, Suroyo, menjelaskan bahwa setiap proyek timbalisasi diawali dengan evaluasi teknis terhadap jenis sumber radiasi, aktivitas radionuklida, energi radiasi, pola penggunaan, serta target laju dosis yang harus dicapai.
"Setiap fasilitas memiliki kebutuhan shielding yang berbeda. Oleh karena itu, desain timbalisasi harus dilakukan secara spesifik berdasarkan perhitungan proteksi radiasi agar keselamatan pekerja, masyarakat, dan lingkungan dapat terjamin," ujarnya.
Layanan timbalisasi yang disediakan PT. RadPro Energi Mandiri mencakup:
- Pintu timbal (lead door) untuk ruang sinar-X, CT Scan, fluoroskopi, radioterapi, dan kedokteran nuklir.
- Dinding timbal untuk laboratorium radioisotop dan fasilitas radiografi industri.
- Kaca timbal (lead glass) untuk ruang observasi radiasi.
- Lead brick dan lead panel untuk shielding sumber radioaktif.
- Bunker penyimpanan zat radioaktif dan limbah radioaktif.
- Shielding container untuk transportasi dan penyimpanan sumber radioaktif.
- Perancangan dan perhitungan ketebalan shielding berdasarkan HVL, TVL, dan persyaratan laju dosis.
Seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) serta ketentuan keselamatan radiasi yang berlaku sehingga fasilitas pengguna dapat memenuhi persyaratan proteksi radiasi dan memperoleh tingkat keselamatan yang optimal.
Melalui layanan timbalisasi ini, PT. RadPro Energi Mandiri berkomitmen mendukung pemanfaatan teknologi nuklir dan radiasi yang aman, andal, dan berkelanjutan di Indonesia, sekaligus membantu pengguna sumber radiasi memenuhi persyaratan keselamatan radiasi sesuai regulasi nasional dan standar internasional. (yy)





